Faktor-faktor yang Terlibat dalam Pembentukan Ajaran

Banyak faktor yang terlibat di dalam pembentukan ajaran itu. Di sini hanya akan dibicarakan hal-hal yang bersifat profan. Ini tidak berarti bahwa hal-hal yang suci tidak penting, melainkan karena selama ini kesucian itulah yang dipakai untuk menyebut ajaran Islam, perhatian semestinya lebih banyak diberikan kepada unsur-unsur tak suci, agar terjadi keseimbangan dalam melihat persoalan.
Di antaranya adalah kebutuhan masyarakat dan penguasa akan sistem ajaran itu. Yang disebut pertama membutuhkannya untuk mempermudah mengetahui hal-hal yang menjadi kewajiban dan hak-haknya. Kehidupan adalah sesuatu yang mengalir dengan deras dan manusia yang menjalaninya sering kali tidak sempat memikirkan secara mendalam apa yang sedang dijalaninya, apa yang akan dijalaninya dan apakah itu semua sesuai dengan yang semestinya dijalani. Ia lebih banyak mengambil yang tersedia di hadapannya tanpa pertimbangan-pertimbangan mendalam. Adanya sistem ajaran yang siap pakai sangat sesuai dengan kecenderungan untuk menerima yang sudah tersedia ini.

Sementara itu, penguasa membutuhkannya untuk melindungi kepentingannya.

Misalnya, untuk menunjukkan bahwa pemerintahan yang dijalankannya mempunyai nilai keagamaan atau bahkan merupakan perwujudan dari pelaksanaan hukum Tuhan di atas bumi. Dengan begitu pemerintahan itu mendapatkan legitimasi. Ajaran tertentu juga akan mempermudah penguasa dalam memerintah. Misalnya, ajaran yang mengatakan bahwa rakyat mesti tunduk kepada ûlil amr, betapa jeleknya cara mereka memerintah, karena itu lebih baik dari pada pemberontakan yang menyebabkan kekacauan. “Empat puluh tahun di bawah pemerintahan yang lalim lebih baik daripada satu saat tanpa pemerintahan,” demikian alasan disampaikan.
Walaupun pada dasarnya dalam Islam tidak ada—selain Nabi—orang atau kelompok tertentu yang memegang otoritas keagamaan, dalam kenyataan otoritas/kewenangan yang mengontrol kegiatan berpikir itu dirasakan. Di antaranya adalah apa yang disebut ortodoksi, yakni paham yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin. Ortodoksi ini terbentuk sejalan dengan waktu dan dikontrol oleh kelompok ahli ajaran Islam yang disebut ulama. Pembentukannya pun tidak lepas dari kepentingan-kepentingan duniawiah, semisal dukungan penguasa politik. Pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari main stream Islam, oleh para pendukung ortodoksi akan dianggap sebagai bid’ah dan tidak diberi kesempatan untuk disebarkan.
Sumber utama ajaran Islam, al-Qur’an dan Hadis, yang tertuang dalam bahasa Arab yang dipakai oleh orang-orang Arab pada tempat tertentu dan waktu tertentu itu menimbulkan persoalan pemahaman bagi orang-orang yang masa hidupnya jauh dari masa hidup Nabi Muhammad saw. Kemampuan orang dalam memahaminya pun tidak sama di samping bahwa banyak di antara pernyataan-pernyataannya yang memungkinkan pemahaman-pemahaman yang berbeda. Ini ikut menentukan dalam pembentukan ajaran yang diistinbatkan daripadanya.
Selain itu, ada kecenderungan manusia untuk bebas, di satu pihak, dan untuk mengikatkan diri di pihak lain. Ini menimbulkan sensor diri yang tidak selamanya positif. Ketakutan orang untuk tidak bebas, misalnya, tidak jarang membuatnya menolak setiap ajaran yang dirasakan membawa kepada ketidakbebasan, walaupun itu datang dari sumber utama Islam. Penakwilan merupakan hal yang paling banyak dilakukan dalam kasus seperti ini. Hal yang sama juga dilakukan oleh orang yang mempunyai kecenderungan untuk mengikatkan diri.

RECENT POSTS