Table of Contents

Larva

Larva yang baru menetas berukuran lebih besar dari telur, tanpa kaki, berwarna putih dan lambat laun berubah menjadi kekuningan (AVRDC 2004). Larva yang baru menetas langsung menggerek batang atau umbi. Bila larva menggerek batang, biasanya arah gerekan menuju umbi. Larva C. formicarius terdiri atas tiga instar dengan periode instar pertama 8 – 16 hari, instar kedua 2–21 hari, dan instar ketiga 35–56 hari (Capinera 1998). Supriyatin (2001) melaporkan bahwa larva C. formicarius terdiri atas 5 instar dalam waktu 25 hari. Suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi tingkat perkembangan larva. Perkembangan larva mencapai 10 dan 35 hari berturut-turut pada suhu 30oC dan 24oC (Capinera 1998).

Di India, fase larva di laboratorium rata-rata berlangsung 16 hari (Rajamma 1983) dan di Taiwan 25–35 hari. Larva instar akhir berukuran panjang 7,50– 8 mm dan lebar 1,80–2 mm (CABI 2001), berwarna putih kekuningan. Caput besar berukuran sepertiga dari panjang badan dan seperdua dari lebar badan. Kepala berwarna kuning hingga cokelat, mandibula kuning hampir hitam dan abdomen larva agak besar. Telur Cylas formicarius (AVRDC 2004).

  1. Pupa

Larva instar akhir membentuk pupa pada umbi atau batang, berbentuk oval, kepala dan elytra bengkok secara ventral. Panjang pupa berkisar 6–6,50 mm (Capinera 1998; CABI 2001; AVRDC 2004). Pupa berwarna putih, tetapi seiring dengan waktu dan perkembangannya, berubah menjadi abu-abu dengan kepala dan mata gelap. Lama masa pupa berkisar 7–10 hari, tetapi pada cuaca dingin dapat mencapai 28 hari (Capinera 1998). Di laboratorium di India, rata-rata stadium pupa adalah 4,10 hari (Rajamma 1983).

  1. Serangga Dewasa

Kumbang yang baru keluar dari pupa tinggal 1–2 hari di dalam kokon, kemudian keluar dari umbi atau batang. CABI (2001) melaporkan bahwa kumbang C. formicarius menyerupai semut, mempunyai abdomen, tungkai, dan caput yang panjang dan kurus (Gambar 4). Kepala berwarna hitam, antena, thoraks, dan tungkai oranye sampai cokelat kemerahan, abdomen dan elytra biru metalik (Capinera 1998; Morallo dan Rejesus 2001).

RECENT POSTS