Kawasan ASEAN Bebas Narkoba 2015(A Drug FreeASEAN2015)

Pada akhir dekade 1990-an, para pemimpin ASEAN melihat adanyakecenderungan yang mengkhawatirkan dan bersifat jangka panjang mengenaibahaya peningkatan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di kawasan ASEAN.Sebagai upaya untuk menanggulanginya, pada tahun 2000 disepakati Bangkok Declaration in Pursuit of Drug FreeASEAN. Hal ini ditegaskan kembali dalamRencana Aksi Komunitas Sosial Budaya padaVientiane Action Programme(VAP), yaitu mewujudkan suatu kawasan ASEAN Bebas Narkoba 2015. Dalamkaitan ini, perlu dilakukan upaya bersama dalam menyelaraskan strategi danlangkah nasional di negara anggota ASEAN.

  1. Penanggulangan bahaya wabah penyakit menular

Pada akhir dekade 1990-an, wabah penyakit SARS menjalar ke kawasan AsiaTenggara. Sementara sejak awal penyakit flu burung. Untuk itu, ASEAN perlumengantisipasi terjadinya ancaman pandemi penyakit menular. Sebagai langkahpreventif, ASEAN telah membangun networking dengan negara di luar kawasandan organisasi internasional.Misalnya, dalamstock piling antiviral drugs and personnel protective equipment di salah satu negara ASEAN. Selain itu, kekhawatiran terhadap meningkatnyapenderita HIV/AIDS di kawasan telah mendorong para Pemimpin ASEAN untuk menyepakati ASEAN Commitment on HIV/AIDS.

  1. Kesetaraan Gender, Pemajuan dan Perlindungan Wanita

Tantangan bagi kerjasama ASEAN di bidang wanita disebabkan oleh adanyaperbedaan sistem politik dan kebijakan masing-masing negara anggota ASEAN.Oleh karenanya, dalam menghadapi tantangan ini, negara-negara anggota ASEANperlu berupaya untuk membentuk persamaan persepsi dan prinsip-prinsip dasar dalam pemajuan kerjasama regional di bidang wanita. Sejauh ini, ASEAN telahmemiliki 4 deklarasi terkait isu wanita yaitu:

Sumber :

https://civitas.uns.ac.id/kasiono/jasa-penulis-artikel/