Aliran-aliran Pemikiran yang mempengaruhi Terbentuknya Sosiologi Hukum

Aliran-aliran Pemikiran yang mempengaruhi Terbentuknya Sosiologi Hukum

Orang yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi hokum adalah Anziloti pada tahun 1882. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sejak saat itu mulai diperkenalkan ruang lingkup dan objek kajian sosiologi hokum. Menurut Zaimnuddin Ali dalam bukunya Sosiologi Hukum,  sosiologi hokum dipengaruhi oleh beberapa disiplin ilmu, yaitu filsafat hokum, ilmu hokum dan sosiologi yang kajiannya berorientasi kepada hokum.[8]

Sarjono Soekanto mengungkapkan pada hakikatnya lahir dari hasil-hasil pemikiran para ahli pemikir, baik di bidang filsafat (hukum), ilmu maupun sosiologi. Hasil-hasil pemikiran tersebut tidak saja berasal dari individu-individu, akan tetapi mungkin pula berasal dari mazhab-mazhab atau aliran-aliran yang mewakili sekelompok ahli-ahli pemikir yang pada garis besarnya mempunyai pendapat-pendapat yang tidak banyak berbeda. Hasil-hasil pemikiran yang berpengaruh terhadap sosiologi hokum dapat dibedakan ke dalam 2 golongan besar, yaitu hasil-hasil pemikiran para ahli filsafat hokum dan ilmu hokum, serta hasil pemikiran para sosiolog pada masa-masa lampau yang dikembangkan di Negara-negara Barat.[9]

  1. Mashab Formalisme

Mashab ini lahir dari pandangan filsafat positivism dengan teorinya yang dikenal dengan nama analytical jurisprudence. Mashab ini menekankah bahwa hokum secara tegas dipisahkan dari keadilan (dalam arti kesebandingan) dan hokum tidak didasarkan pada nilai-nilai yang baik atau buruk, melainkan didasarkan pada kekuasaan dari penguasa. Tokoh terkenal pengusung mazhab ini adalah John Austin (1790-1859) dengan teorinya analytical jurisprudence dan Hans Kelsen (1881-….) dengan teorinya pure theory of law. Pengaruh dari mazhab formalism terlihat pada sikap beberapa ahli teori hokum yang berorientasi pada sosiologi dan sosiolog-sosiolog yang menaruh perhatian pada hokum. Mereka berpegang teguh pada pemisahan antara hukum dengan moral atau berpegang pada batas yang memisahkan apa yang ada pada dewasa ini dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang, dampak positivism tampak pula pada adanya usaha untuk mengidentifikasikan hukum dan membedakannya dengan kebiasaan terutama dengan menekankan pada kekuasaan Negara yang dapat memaksakan berlakuknya hukum. Selain itu, formalism berpengaruh pula terhadap pemikiran dan tingkah laku hukum dan bahkan terhadap penentuan bidang-bidang penelitian oleh sarjana-sarjana ilmu social.

  1. Mazhab sejarah dan kebudayaan

Mashab sejarah dan kebudayaan mampunyai pendirian yang sangat berlawanan dengan mazhab formalistis. Mashab ini justeru menekankan bahwa hukum hanya dapat dimengerti dengan menelaah kerangka sejarah dan kebudayaan dimana hukum tersebut timbul. Seorang tokoh terkemuka dari mashab ini adalah Friedrich Karl Von Savigny (1779-1861) yang berpendapat bahwa hukum merupakan perwujudan dari kesadaran hukum masyarakat (volksgeist).