Table of Contents

Kerangka Pemikiran

Kerangka Pemikiran

Kerangka Pemikiran

Dari berbagai penelitian sebelumnya, dihasilkan peneltian yang belum konsisten. Oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan variabel dari beberapa penelliatan sebelumnya untuk membuktikan apakah variabel berikut ini berpengaruh terhadap audit delay. Dalam penelitian ini, penulis mencoba menguji kembali beberapa variabel yaitu Kantor Akuntan Publik, Opini Auditor, Laba atau Rugi, Tingkat Solvabilitas dan Tingkat Profitabilitas.

2.5.1.   Pengaruh Kantor Akuntan Publik (KAP) Terhadap Audit Delay

            Kantor Akuntan Publik (KAP) salah satu faktor yang mempengaruhi audit delay. Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah suatu organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berusaha di bidang pemberian jasa dalam praktek akuntan publik.

            Seorang auditor bukanlah pihak yang mengungkapkan informasi keuangan secara signifikan mengenai perusahaan. Namun, auditor berperan dalam mengungkapakan informasi tentang pengaruh material dari metode akuntansi dan menyatakan opini atas laporan keuangan yang telah diaudit. Setiap laporan keuangan tahunan perusahaan akan diaudit oleh seorang auditor yang berkerja di Kantor Akuntan Publik (KAP).

            Kualitas auditor dapat diketahui dari besarnya perusahaan audit yang melaksanakan pengauditan laporan keuangan tahunan, berstandar pada apakah Kantor Akuntan Publik (KAP) bekerja sama dengan big four atau tidak. Penelitian yang dilakukan sebelumnya banyak yang menyatakan ada kecenderungan bahwa KAP Big Four lebih cepat menyelesaikan tugas audit yang mereka terima. KAP the big four lebih menginginkan untuk mengambil sikap yang tepat dan mengeluarkan pendapat yang sesuai standar dan memiliki kemampuan teknis untuk mendeteksi going concern perusahaan.

            Berikut nama Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang bermitra dengan big four, yaitu:

  1. KAP Price WaterHouse Cooper (PWC), berkerjasama dengan KAP Drs. Hadi Sutarto & Rekan, Haryanto Sahari & Rekan.
  2. KAP Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG), bekerjasama dengan KAP Sidharta-Sidharta& Widjaja
  3. KAP Ernest & Young (E&Y), yang bekerjasama dengan KAP Prasetio, Sarwoko & Sarjadja.
  4. KAP Deloitte Touche Thomatsu (Deloitte), bekerjasama dengan KAP Hans Tuanakotta& Mustofa, Osman Ramli Satrio & Rekan.

2.5.2.   Pengaruh Opini Auditor

Auditor sebagai pihak yang independen di dalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan, akan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diauditnya. Ada lima kemungkinan pernyataan pendapat auditor independen (Mulyadi, 2002) yaitu :

  1. a.      Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)

      Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia jika memenuhi kondisi berikut ini :

  1. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia digunakan untuk menyusun laporan keuangan.
  2. Perubahan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.
  3. Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  4. b.      Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan (Unqualified Opinion Report With Explanatory Language)

 Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien, auditor dapat menambahkan laporan hasil auditnya dengan bahasa penjelas. Berbagai penyebab paling penting adanya tambahan bahasa penjelasan:

  1. Adanya ketidakpastian yang material.
  2. Adanya keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan.
  3. Auditor setuju dengan penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  1. c.       Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

Pendapat wajar dengan pengecualian akan diberikan oleh auditor jika dijumpai hal-hal sebagai berikut :

  1. Lingkup audit dibatasi oleh klien.
  2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien maupun auditor.
  3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.
  4. d.      Pendapat tidak wajar (Disclaimer Opinion)

Auditor akan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien.

Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi untuk pengambilan keputusan.

  1. e.       Pernyataan tidak memberikan pendapat (Adverse Opinion)

Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit, maka laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat adalah:

  1. 1.      Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit.
  2. 2.       Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya. Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan pendapat karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit.

Sumber : https://silviayohana.student.telkomuniversity.ac.id/seva-mobil-bekas/