Usul Fiqh dan Imam Asy-Syatibi

Usul Fiqh dan Imam Asy-Syatibi

Usul Fiqh dan Imam Asy-Syatibi

Menurut Syeikh Hamza Yusuf ada dua hal yang digandrungi oleh bangsa dengan peradaban tinggi yaitu Law (hukum/syari’at) dan Astronomi. Hukum atau syari’at menggambarkan bumi dan ilmu astronomi menggambarkan langit (kesimpulan penulis : jadi kalau menguasai keduanya maka bagaikan menguasai bumi dan langit). Coba kita lihat standard-standard dalam pekerjaan kita yang dihasilkan oleh bangsa barat yang begitu terperinci dan mendetail, juga bagaimana mereka berlomba-lomba dalam penguasaan luar angkasa, itulah kebanggaan negara-negara maju saat ini.

Ketertarikan akan hukum ini telah dirintis oleh para Ulama Islam. Pada pengujung abad ke-2 dan awal abad ke-3, Imam Syafi’i tampil meramu, membuat sistematik dan membukukan usul fiqh. Kitab beliau tentang ushul fiqh itu diberi nama Ar-Risalah. Tentang kitab Ar risalah karangan Imam Syafi’ie ini,Imam Fakhrurrozy dalam kitab “Manaqib asy-Syafi’ie” mengatakan, “Adalah umat Islam sebelum imam Syafi’ie r.a.,membicarakan masalah-masalah fiqh,mereka mengambil dan membantah dalil-dalil, tapi tidak ada suatu peraturan umum yang dapat dipedomani dalam menerima dan menolak dalil-dalil itu. Imam Syafi’ie r.a. menciptakan ilmu baru yang dinamai Ushul al Fiqh,dimana beliau meletakkan dasar-dasar dan peraturan-peraturan umum yang dapat dipakai dalam menyelidiki derajat dalil-dalil syari’at islam”. Imam Muzani berkata:”Saya membaca kitab Ar risalah 500 kali, maka setiap kali membaca,saya dapati didalamnya satu ilmu baru yang saya belum mengetahui sebelumnya”.

Sejak saat itu muncullah kitab-kitab ushul fiqh dari para ulama berbagai mazhab. Sampai abad ke-8 H, Imam Asy-syatibi, seorang ahli ushul fiqh dari kalangan Malikiyah mengarang kitab al-Muwafaqat Fi Usul asy-Syari’ah. Dibandingkan dengan kitab usul sebelumnya kitab ini lebih banyak berbicara tentang Maqasid asy-Syari’ah (tujuan hukum) sebagai landasan hukum. Kitab ini dianggap sebagai perkembangan paling akhir usul fikih. Kitab usul fikih yang datang kemudian pada umumnya merupakan nukilan dan ulasan prinsip yang terdapat di dalam kitab tersebut.

Menurut Imam asy-Syatibi hukum disyari’atkan Allah SWT untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Kemaslahatan yang akan diwujudkan itu terbagi atas tiga tingkatan kebutuhan, yaitu daruriyyat, hajjiyat dan tahsiniyyat. Daruriyyat ialah tingkat kebutuhan yang harus ada atau disebut juga kebutuhan primer, apabila tidak terpenuhi maka keselamatan umat manusia akan terancam. Hajjiyyat adalah kebutuhan sekunder, jika tidak terpenuhi keselamatan manusia tidak sampai terancam, namun akan mengalami kesulitan. Sedangkan tahsiniyyah ialah tingkat kebutuhan yang tidak mengancam eksistensi salah satu dari lima pokok dan tidak menimbulkan kesulitan. Five universals yang diterangkan dalam seminar ini ternyata diambil dari daruriyyat-nya imam asy-Syatibi ini, yaitu pemeliharaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Baca Juga :