Cerita Pilu SDN Banyuning Laok 01, Proses Belajar Diluar Kelas Tanpa Atap dan Beralaskan Terpal

Cerita Pilu SDN Banyuning Laok 01, Proses Belajar Diluar Kelas Tanpa Atap dan Beralaskan Terpal

Cerita Pilu SDN Banyuning Laok 01, Proses Belajar Diluar Kelas Tanpa Atap dan Beralaskan Terpal

Sungguh ironi suasana proses belajar mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banyuning Laok 01, Dusun Birampak, Desa Banyuning Laok, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Pasalnya, proses belajar siswa- siswi di SDN tersebut kini tidak lagi diruang kelas penuh atap, melainkan diruang terbuka hanya beralaskan terepal dibawah terik matahari.

Pelaksanaan proses belajar diluar ruang kelas bukan tanpa alasan. Bahkan, kegiatan tersebut hampir berlangsung sekitar 2 minggu berturut- turut. Hal itu lantaran ruang kelas yang hanya tingal tiga (3) lokal kondisinya cukup mengenaskan dan tidak layak pakai.
BacaLagi

KKP dan Perinus Berdamai Soal KJA Sabang, FNI: Proses Hukum harus Jalan Terus

Korupsi Tindakan Kejahatan, Mari Kita Tegaskan Korupsi Musuh Bersama

Basori Alwi (29) seorang guru agama di SDN Banyuning Laok 01 menuturkan kondisi belajar dan mengejar pasca kondisi ruang kelas tak lagi ditempati. Kata dia, fasilitas yang digunakan hanya terepal agar proses kegiatan belajar dan mengajar tetap berlangsung.

“Proses belajar mengajarnya kita menggunakan terepal untuk alas dan tanpa atap. Itu dibagi 4 titik, antara lain kelas 1 dan 2, kelas 4 dan 5, kelas 6 dan kelas 3,” kata dia kepada Jurnalfaktual.Id saat ditemui dihalaman sekolah. Jumat (13/12/2019).

Tak hanya itu, Ia menuturkan bahwa para siswa SDN Banyuning Laok 01 yang jumlahnya 122 orang

itu sebagian membawa kardus sendiri untuk dijadikan alas tempat duduk demi mengukuti pelajaran.

“Kami gak berani melangsungkan proses belajar mengajar di ruang kelas, karena temboknya retak, plafon rusak dan kramik juga lepas semua. Kami hawatir takut roboh,” ungkapnya.

Pantauan jurnalfaktual.Id pada Kamis (13/12) sore, kondisi bangunan gedung sekolah sangat miris dan jauh dari kata layak. Basori mengatakan, kondisi tersebut menjadi kehawatiran para guru dan wali murid.

“Ya kondisinya seperti itu, kami sekali lagi tidak berani untuk menempati,” ujarnya.

Selain 3 lokal kelas yang kondisinya sangat ironis itu, terdapat bangunan ruang kelas yang berisi 3 lokal

roboh dan rata dengan tanah. Kata dia, gedung itu roboh pada bulan agustus 2018.

“Kalau sebelah barat itu roboh bulan agustus lalu. Waktu gedung itu roboh kan menggunakan 3 ruang kelas yang saat ini tidak ditempati. Tapi, kalau sekarang semua belajar panas- panasan,” terangnya.

Pria kelahiran Desa Banyuning Laok itu juga mengatakan, pihaknya berulang kali mengajukan agar dilakukan pembangunan untuk gedung yang roboh. Akan tetapi, hingga kini belum ada tanda- tanda akan terealisasi.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/