Tanda Bahwa kita Tidak Berjiwa Entrepreneur

Saat ini tidak sedikit wanita karier banting setir menjadi entrepreneur. Makin tergoda ketika membaca cerita sukses pebisnis di internet. Namun, sebelum Anda mencatat identitas sebagai entrepreneur di biodata Anda, cek, apakah kita tipe begini:

1/ kita Sesungguhnya ialah Freelancer

Bila Anda ialah seorang kreatif yang bekerja guna diri sendiri. Intinya, freelancer ialah menjual karya mereka guna mendapatkan penghasilan. Berbeda dengan freelancer, pebisnis tidak memasarkan waktu mereka guna uang. Karena, bila begini, maka dana yang akan peroleh sejalan dengan masa-masa yang kita habiskan. Semakin tidak sedikit waktu, maka duit semakin tidak sedikit didapat.

Sebetulnya, destinasi utama seorang freelancer ialah mereka menjadi bos guna diri mereka sendiri, dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Dan menjadi freelancer, dengan kata lain Anda disewa.

2/ Karyawan di Usaha kita sendiri

Kita telah biasa menyaksikan bahwa empunya resto, salon, kedai kopi, ialah mereka-mereka yang membuat pekerjaan untuk diri mereka sendiri. Inilah yang dinamakan oleh Michael Gerber dalam kitab The E-Myth dinamakan ‘fakepreneur’. Ia menyinggung mereka sebagai teknisi.

Penjelasannya, mereka paling bagus di bidang setiap namun tidak dapat bekerja guna orang beda dan ternyata pun tidak mempunyai kompetensi guna mengembangkan bisnisnya menjadi besar.

Seorang teknisi menguras sebagian besar waktunya guna bekerja Di DALAM bisnis mereka, bukan bekerja UNTUK bisnis mereka.

3/ kita Karyawan Yang Baik

Ini terjadi bila Anda dapat mudah menemukan pekerjaan, dan termasuk loyal bekerja di suatu perusahaan. Memang, menjadi karyawan yang loyal dan mempunyai karier yang bagus bukan urusan salah. Juga bukan berarti kita tidak dapat menjadi seorang pebisnis suatu ketika kelak. Namun, orang-orang yang sebab merasa nyaman dengan situasi sudah mempunyai gaji besar dan posisi yang aman, tidak hendak lagi memburu mimpi, maka mereka tidak mempunyai jiwa entrepreneur.

Karena, seorang pebisnis sejati inginkan meninggalkan gaji puluhan juta, termasuk kemudahan mobil kantor dan jam kerja yang telah jelas. Dan urusan ini sama sekali tidak sehubungan dengan kehormatan hati akan kemapanan keuangan, tetapi lebih pada tujuan, visi dan tujuan serta kendali diri. Entrepreneur tahu, bila ada dua opsi apakah memburu mimpi sendiri atau menolong orang lain memburu mimpi mereka, maka ia memilih yang kesatu.

Baca Juga :