Budaya Digital Memberi Pengaruh Pada Kualitas Perguruan Tinggi

Kesadaran dan pelaksanaan kebiasaan digital dinilai paling memengaruhi kualitas kompetensi semua dosen dan mahasiswa serta perguruan tinggi secara umum dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.

Direktur Eksekutif Institut Media Sosial dan Diplomasi Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria memaparkan, internet telah ada semenjak tahun 1969 dan masuk Indonesia selama tahun 1990-an.

Sedangkan media sosial baru masuk Indonesia selama tahun 1997. Berdasarkan keterangan dari dia, bangsa produsen internet, medsos, dan software sudah menyiapkan masyarakatnya guna produk yang mereka buat.

Sementara Indonesia sebagai bangsa pemakai atau user tidak jarang kali terlambat beradaptasi. Sebagai contoh, meskipun internet telah lama ada, namun Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) baru terdapat di Indonesia tahun 2017. Rentang masa-masa dari 1969, 1997 sampai ke 2017 tentu paling lama.

“Internet mengolah segalanya, namun tidak sedikit organisasi kampus masih nyaman dengan struktur lama. Struktur tersebut memengaruhi cara beranggapan dan bergerak, sama dengan kesebelasan sepakbola, susunan itu memengaruhi teknik menyerang dan bertahan,” kata Hariqo untuk SINDOnews di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Penulis kitab berjudu Seni Mengelola Tim Media Sosial ini menegaskan, pengembangan dan penambahan sumber daya insan dan kapasitas dosen dan mahasiswa perguruan tinggi adalahhal urgen untuk menghadapi pertumbuhan teknologi digital dan era revolusi industri 4.0 adalahkeniscayaan.

Berdasarkan keterangan dari Hariqo, terdapat dua teknik utama yang dapat dan perlu dilaksanakan perguruan tinggi. Pertama, di perguruan tinggi yang terpenting ialah kesadaran rektor dan jajaran pimpinan untuk menyusun bidang yang konsentrasi menangani internet.

“Yang sangat pokok ialah menyiapkan wadah formal. Namanya terserah, dapat tim digital atau apa juga namanya,” ujarnya.

Hariqo mengatakan, menyusun tim digital di perguruan tinggi paling mudah. Rektor tinggal menciptakan dan mengeluarkan surat keputusan rektor dan masukkan tim tersebut ke dalam struktur organisasi kampus. Kemudian menyamakan hak dan keharusan pimpinan tim itu dengan pimpinan kampus lain.

Setiap tahun, lanjut dia, kesebelasan digital mesti mengadukan kinerjanya di depan perwakilan mahasiswa dan senat. “Biarkan forum yang mengevaluasi,” ujarnya.

Alumnus Pondok Modern Gontor, Ponorogo ini memperhitungkan, andai tim digital itu berjalan sekitar dua tahun maka perguruan tinggi bakal mempunyai social media culture dan digital culture yang ditandai dengan bertambahnya kesadaran publikasi, dokumentasi, literasi serta pelibatan masyarakat.

Tahapan selanjutnya, kata dia, hadir kesadaran perlindungan data individu dan kebiasaan kreatif di perguruan tinggi. Kemudian terbit motivasi membara untuk menciptakan medsos, mesin pencari, dan sekian banyak macam aplikasi.

“Budaya digital mendorong perguruan tinggi beranggapan global guna kejayaan Indonesia. Perguruan tinggi mesti beranggapan membuat media sosial, menciptakan mesin pencari, serta menyelamatkan aset dan kepentingan nasional bangsa Indonesia,” katanya.

Kedua, perguruan tinggi perlu berkolaborasi dengan media massa di Indonesia. Hariqo menilai sekitar ini justeru wartawan yang mencari-cari hasil riset dari kampus. Padahal seharusnya kampus proaktif memberikan hasil riset, skripsi, tesis, dan disertasi yang bagus ke media massa.

Untuk kepentingan ini, kata dia, perguruan tinggi dan rektor mesti menunjukkan mahasiswa dan dosen untuk menciptakan konten untuk media, baik nasional maupun lokal.

“Kenapa? Karena media-media tersebut membayar pajak. Sementara medsos-medsos tersebut bayar pajaknya dikit, tidak cocok dengan penghasilan besar yang mereka dapatkan. Bikin MoU (nota kesepahaman) yang jelas, bukan Mou-Mou-an yang berlalu tanda tangan, tidak jelas tindak lanjutnya,” paparnya.

Dia menandaskan, dari segi literasi maka yang sangat penting ialah pengembangan dan penambahan literasi alam semesta. Artinya, kata Hariqo, perguruan tinggi di Indonesia tidak sekadar beranggapan mengenai upaya penambahan kompetensi dosen dan mahasiswa pada aspek literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia.

“Literasi alam semesta, maksudnya menyimak geopolitik, ekonomi kebiasaan dunia. Dari situ anda paham posisi bangsa kita, potensi bangsa kita, kemudian apa yang akan anda kuatkan. Dari situ hadir nalar kritis tidak melulu kepada penguasa di Indonesia tetapi untuk penguasa dunia,” ucap Hariqo.

https://water.weather.gov/ahps2/nwsexit.php?url=https://www.pelajaran.co.id