Tahun Ajaran 2018-2019, SMPN 1 Kota Cirebon Pertama Kali Laksanakan UNBK Mandiri

Tahun Ajaran 2018-2019, SMPN 1 Kota Cirebon Pertama Kali Laksanakan UNBK Mandiri

Tahun Ajaran 2018-2019, SMPN 1 Kota Cirebon Pertama Kali Laksanakan UNBK Mandiri

Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kota Cirebon mulai berhasil menggelar Ujian Nasional

Berbasis Komputer (UNBK) secara mandiri. Tahun ajaran sebelumnya masih menumpang di Sekolah lain.

Bagi kami memang tahun ini, pertama secara mandiri, SMPN 1 menggelar UNBK mandiri. Tahun-tahun sebelumnya kita masih menumpang di SMKN 1. Jadi mudah-mudahan tahun depan, kita tinggal lanjut,” kata Kepsek SMPN 1 Kota Cirebon, Lilik Agus Darmawan belum lama ini.

Pihaknya bersyukur lantaran semua peserta didik berhasil memperoleh nilai terbaik

dan dinyatakan lulus tahun ajaran 2018-2019.

“Alhamdulillah lulus 100 persen, sebanyak 530 siswa. Kemudian dari informasi awal sebagian besar sudah tertampung di SMA Negeri 1, 2 dan 6,” sebutnya.

Data kelulusan siswa yang melanjutkan ke tingkat selanjutnya, diakuinya masih dalam proses. Data itu dapat diketahui nanti saat anak-anak meminta ijazah kelulusan.

“SMPN 1 untuk tingkat Negeri di Kota Cirebon masih di ranking 1. Bahkan, informasi dari Disdik, dari 10 anak the best, NEM tertinggi, berjumlah 9 orang dari SMPN 1 Kota Cirebon,” sebutnya.

Di samping itu, Lilik menambahkan, adapun proses pelaksanakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)

di tahun ajaran 2019-2020, pihaknya memegang aturan seleksi sesuai ketentuan, baik itu ketetapan Zonasi yang ditentukan Pemerintah Pusat maupun Perwal.

“Kita quota sudah terpenuhi semua tinggal nanti tanggal 15, kita mulai masuk orientasi siswa baru yang akan dilaksanakan bulan Juli,” jelasnya.

Lilik menjelaskan, sistem zonasi sebetulnya upaya pemerintah untuk menjalankan prinsip keadilan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri. Sehingga, pelaksanaan sistem zonasi khususnya di Sekolah yang menjadi tanggungjawabnya tidak begitu sulit untuk diterapkan.

“Di tahun sekarang bagi kami, sudah dipermudah. Karena sistem zonasi sudah diklikkan dulu oleh pengelola di SD. Jadi petugas pendaftaran di sekolah-sekolah hanya memasukkan data, kalau anak itu dari kota dengan nomor ujian tadi sudah muncul data lengkap termasuk koordinat alamat yang bersangkutan. Sehingga akan dengan mudah terukurlah jarak rumah anak tersebut dengan sekolah. Sehingga pe-ranking-an pun sesuai dengan jarak tersebut,” paparnya.

Rincian penerimaan peserta didik Tahun Ajaran 2019-2020 di SMPN 1 Kota Cirebon, menurut Lilik, terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Bisa jalur Prestasi, Bimbingan Orang Tua atau Olahraga dan Zonasi.

“Jalur prestasi 5 persen dan jalur bimbingan orang tua 5 persen, kemudian jalur zonasi 90 persen. Dan dibreakdown ada jalur keluarga miskin 10 persen, jalur Luar Kota 10 persen, kemudian sisanya jalur zonasi. Itu sudah semua,” ucapnya.

Lilik mengaku, meski PPDB berdasar sistem zonasi dapat berjalan baik, masih mendapatkan sedikit keluhan dari beberapa keluhan orang tua (komplain). Namun, keluhan atau kendala itu menjadi hal biasa dalam dinamika pendidikan pada tiap tahunnya. Pun kendala itu, klasik berkutat pada persoalan titik ordinat (zonasi).

“Kita 10 rombel. Dengan total per rombel 32 anak. Sudah terpenuhi semua. Dan komplain dari orang tua biasa saja terjadi karena itu tergantung dan berkutat di persoalan titik ordinat semata,” pungkasny

 

Sumber :

https://dcckotabumi.ac.id/pages/sejarah-proklamasi/