Perkembangan filsafat menjadi ilmu

Perkembangan filsafat menjadi ilmu

Perkembangan filsafat menjadi ilmu

Perkembangan filsafat menjadi ilmu pengetahuan

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa semua ilmu berkembang atau berakar dari filsafat. Semua dimulai dari kesangsian, kekaguman, keheranan, dan keragu-raguan tentang segala sesuatu di alam semesta ini. Manusia adalah makhluk yang selalu bertanya karena rasa ingin tahu yang terdapat di dalam dirinya. Dengan rasa ingin tahu tersebut manusia merenung dan dalam perenungan itulah manusia mulai berfilsafat. Hasil dari filsafat tersebut kemudian diuji secara empiris sehingga menghasilkan teori. Dari teori inilah muncul ilmu pengetahuan. Setelah ilmu pengetahuan lahir muncul kesangisan, kekaguman, keheranan dan keragu-raguan yang baru. Untuk mengatasi hal itu manusia kembali berfilsafat. Hasil filsafat tersebut kemudian diuji, dieksperimenkan dan diteliti sehingga menjadi suatu teori. Dari teori inilah berkembang suatu ilmu pengetahuan yang baru. Seperti itulah proses perkembangan dari filsafat menjadi ilmu pengetahuan.

 

Sebagai contoh seorang ilmuan dari Prancis yang bernama Emile Durkheim

merasa heran dengan banyaknya jumlah pelaku bunuh diri dari suatu agama tertentu. Dalam fikirannya ia bertanya mengapa hal ini bisa terjadi. Mengapa pemeluk agama katolik lebih banyak yang melakukan bunuh diri dari pada pemeluk agama protestan. Kemudian Durkheim mulai berfilsafat ia melihat bahwa ikatan sosial berupa norma-norma yang terdapat dalam agama katolik jauh lebih ketat dari pada protestan. Dengan demikian ikatan sosial ini membelenggu kehidupan penganut katolik. Sedangkan pada agama protestan ikatan sosialnya jauh lebih longga dari pada agama katolik. Hasil filsafat Durkheim ini kemudian diuji secara empiris. Ia melakukan penelitian ilmiah pada masyarakat Prancis yang memeluk agama katolik dan protestan. Dari hasil penelitian ini Durkheim merumuskan suatu teori tentang fakta sosial. Fakta sosial adalah sesuatu yang berada di luar individu yang bersifat eksternal, memaksa dan umum. Salah satu bentuk fakta sosial tersebut adalah solidaritas atau ikatan sosial dalam masyarakat.

Dimana terdapat tiga jenis bunuh diri yaitu:

Bunuh diri Egoistic, adalah suatu tindak bunuh diri yang dilakukan seseorang karena merasa kepentingannya sendiri lebih besar daripada kepentingan kesatuan sosialnya. Seseorang yang tidak mampu memenuhi peranan yang diharapkan (role expectation) di dalam role performance (perananan dalam kehidupan sehari-hari), maka orang tersebut akan frustasi dan melakukan bunuh diri.

Kemudian Bunuh diri Anomic yaitu

bunuh diri yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu dimana terjadi ketidakjelasan norma-norma yang mengatur cara berpikir, bertindak dan merasa para anggota masyarakat, gangguan itu mungkin membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak akan pernah puas terhadap kesenangan. Dan yang terakhir Bunuh diri Altruistic, dimana orang melakukan bunuh diri karena merasa dirinya sebagai beban dalam masyarakat. Contohnya adalah seorang istri yang melakukan bunuh diri yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Serta juga bunuh diri yang dilakukan oleh orang Jepang “hara kiri”, yaitu bunuh diri yang dilakukan oleh anggota militer demi membela negaranya. Dari teori ini kemudian berkembanglah ilmu sosiologi yang mengkaji tentang fakta sosial yang berbeda dari ilmu psikologi yang mengkaji fakta individual.

Sumber : http://bupropion.lo.gs/contoh-teks-eksplanasi-singkat-a165655880