Cobain Sensory Playdate Libatkan Multiindra Anak

Cobain Sensory Playdate Libatkan Multiindra Anak

Cobain Sensory Playdate Libatkan Multiindra Anak

Berbagai kegiatan menyenangkan bisa diciptakan untuk si kecil.

Tak hanya untuk bermain, tapi juga membuatnya bisa belajar hal baru dan melatih kepekaan indra tubuhnya. Kegiatan Sensory Playdate bisa jadi pilihan. Sangat mudah dipraktikkan sendiri di rumah lho, Mom.

Sore itu di Bumi Apsari, Jakarta, terlihat belasan balita duduk melingkar. Lalu, Kak Dyah Ayu Amallia, founder Litukanya Project, menceritakan dongeng tentang hutan dan hewan-hewan di dalamnya. Anais, Rihga, dan teman-teman tampak serius memusatkan perhatian pada cerita.

Selesai mendongeng, Kak Dyah membagikan nampan yang berisi gelas plastik, k

acang hijau, kacang beras, dan sendok. Alat-alat itu dipakai untuk kegiatan spooning activity. Anak-anak diminta memindahkan kacang hijau ke dalam gelas yang masih kosong dengan menggunakan sendok. Rihga, 22 bulan, langsung antusias menyendok kacang hijau.

Sore itu, dia ditemani Mama Revalina S. Temat dan Papa Rendy. ”Rihga bisa,” katanya saat akan dibantu sang mama. Dia dengan semangat memindahkan kacang hijau sampai habis. Setelah itu, kacang hijau tersebut dipindahkan ke dalam botol plastik. Begitu pula kacang beras yang dimasukkan ke botol yang lain. Lalu, botol ditutup dan dilapisi kertas sehingga tidak terlihat dari luar.

Wah, untuk apa ya? ”Coba didekatkan ke telinga, botolnya dikocok. Dengarkan suaranya,” ujar Kak Dyah memandu anak-anak peserta sensory playdates di Bumi Apsari.

Botol yang berisi kacang hijau dan kacang beras, ternyata, menghasilkan suara yang berbeda. Botol berisi kacang beras yang bentuknya lebih pipih, ketika dikocok, menghasilkan suara yang terdengar ringan, sedangkan botol berisi kacang hijau menghasilkan suara yang lebih ”berat.”

Nara dan Arza tampak excited saat mengocok botol dan mendengarkan suaranya.

Mereka berusaha membedakan mana botol berisi kacang hijau, mana kacang beras. ”Ini kacang hijau,” tebak Arza saat mendengar suara yang lebih ”berat”.

Kegembiraan mereka berlanjut saat Kak Dyah membagikan kertas gambar, palet, kuas, dan cat air. Anak-anak bebas menggambar objek atau cerita yang disukai. Kertas yang lain ditempeli foto anak atau foto bersama mama dan papa. Nanti dirangkai jadi buku Tentang Aku.

Mata Anais berbinar saat mencelupkan kuas ke dalam warna pilihannya, lalu menggoreskannya di kertas gambar. Gadis cilik berusia 4,5 tahun itu menggambar gunung, matahari, dan awan. Sambil memandangi kertasnya yang hampir penuh, dia bergumam, ”Aku mau tambahkan burung. Warna apa ya….”

Sedetik kemudian, dia memulaskan warna pink. ”Ini burungnya lucu. Warnanya pink,” kata Anais yang rambutnya dikucir dan memakai bando. Setelah lukisan jadi, masih ada kejutan lainnya. Anak-anak boleh menuangkan garam pada bagian yang disukai. Anais, Rihga, Nara, dan Arza pun dengan semangat membubuhkan garam di atas lukisan mereka.

Garam bersifat menyerap cairan sehingga cat di kertas gambar lebih cepat kering. Selain itu, rupanya ada fungsi lain. Saat diraba, anak-anak bisa merasakan perbedaan tekstur antara bagian yang dibubuhi garam dan yang tidak. Seru ya…

Kak Dyah menerangkan, permainan sensori itu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan untuk anak usia 0–6 tahun. Melibatkan banyak indra (multisensori), mulai visual, pendengaran, peraba, hingga gerak, membuat pengalaman bermain dan belajar makin optimal.

Meski terlihat seperti bermain dan sangat fun, banyak manfaat yang didapat. Spooning activity, misalnya, memindahkan benda dengan menggunakan sendok. ”Stimulasi untuk motorik halus, menguatkan otot tangan dan jari untuk menyiapkan anak belajar menulis,” papar Kak Dyah yang mempelajari teknik pendidikan anak Montessori.

Mengocok botol berisi kacang hijau dan kacang beras merupakan stimulasi untuk indra pendengaran, membuat anak-anak mengeksplorasi suara yang berbeda. Selain kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak lho permainan sensori yang bisa dilakukan bareng mama-papa di rumah. Misalnya, membuat adonan dari tepung dan air, menuang kopi bubuk dan mencium aromanya, atau membuat istana dari pasir. (*)

 

Baca Juga :