Belajar Tak Mengenal Batas

Belajar Tak Mengenal Batas

Belajar Tak Mengenal Batas

Bisa terjadi bahwa seseorang memiliki ijazah namun belum prima

Dalam menjalankan tugas/pekerjaan tertentu sesuai tuntutan terkini. Ini lumrah sebagai manusia: tidak bisa sempurna dalam segala hal pada setiap waktu. Masih perlu belajar dan mengembangkan diri.

 

Walaupun ijazah dianggap sebagai representasi legalitas

Bahwa seseorang telah dididik dan memiliki wawasan ilmu/pengetahuan sesuai tingkat pendidikannya, namun bukan hanya ijazah, ilmu/pengetahuan harus di-update dan keterampilan terus dikembangkan untuk mendukung ijazah. Kegiatan pelatihan dan ‘pendidikan khusus’ tetap diperlukan. Maka secara prinsip, pendidikan tidak statis, pendidikan harus tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

 

Ilustrasi khusus:

(a) Seorang sarjana matematika mengikuti pelatihan sebelum menjalankan tugas sebagai anggota PPS dalam pemilu

(b) mengikuti pelatihan software matematika untuk mendukung kegiatan pembelajaran di kelas

(c) guru mempelajari dan membuat instrumen dan metode-metode pembelajaran yang sesuai perkembangan zaman.

 

Bagaimana jika: karakter bagus, berbakat dan terampil tapi tidak berijazah?

Ini ibarat sopir lincah, tapi tidak memiliki SIM. Atau sarjana matematika murni masuk ke kelas tanpa akta mengajar. Terampil itu menghidupkan! Tetapi aturan membuat hidup jadi lebih nyaman.

Banyak kenyataan bahwa seorang memiliki keterampilan dan berbakat sehingga memiliki penghasilan tetap atas keterampilan dan bakat tersebut. Itu sudah sangat nyata di lingkungan kita. Alangkah bagus jika keterampilan didukung ijazah. Pada masa kini, umumnya keterampilan menjadi syarat pengikut untuk memenangi persaingan antar tenaga kerja. Syarat utama adalah berijazah, karena ijazah dinilai sebagai legalitas penguasaan konsep ilmu, wawasan pengetahuan dansoft skill lainnya. Maka, melanjutkan pendidikan adalah langkah untuk memberdayakan bakat dan keterampilan.

Baca Juga :